Jika libur panjang seperti wiken minggu ini (17 sd 20 Mei 2012), aku mengingat kembali #wisata 7B: Bunaken, Bukittinggi, Borobudur, Belitong, Bali, Bandung dan Baitullah.
Bunaken teringat dengan 5B termasuk Bubur, Bobo, Bibir, Boulevard. Di Bunaken memiliki taman laut yang amat indah untuk diabadikan. Kebanyakan wisatawan tak lupa melakukan selam scuba (scuba diving) untuk melihat keindahan alam dibawah laut Bunaken tersebut.
Bukittinggi, pernah menjadi ibukota Indonesia, memiliki jam gadang yang mirip big ben, digelar Paris van Sumatera, kota #wisata yang sejuk dan tempat lahir Bung Hatta mantan wakil presiden Indonesia.
Borobudur, candi-stupa masa wangsa syailendra. Bisa mengabadikan sunrise (matahari terbit) nan indah dari Borobudur atau Bukit Punthuk Setumbu. #wisata ke keraton, Malioboro dan Parang Tritis.
Belitong, negeri Laskar Pelangi, bisa mengenang kembali buku best seller atau film, langsung dari lokasi kejadian atau abadikan setumpuk bebatuan pantai nan indah.
Bandung, Paris van Java, terkenal dengan 5C-nya: Culinary (kuliner), Craft (kerajinan), Cewek Geulies (Cantik), Clothing (pakaian) dan Ciamik untuk #wisata
Baitullah, wow yang satu ini merupakan #wisata rohani, muslimin atau muslimat harus menyiapkan diri dengan 4TA (harTA karena biaya gede, TAhta karena harus berada pada ma'rifat uztad, kaTA karena harus banyak berdzikir dan cinTA karena harus semakin menyiapkan diri lebih mencintai Allah dan Rasulullah).
Bali, kota pulau dewata, mengenang kembali saat menawar lukisan di Pasar Sukowati, sa'keliling Bali dengan rent car (mobil sewa) "bebas tilang", bisa #wisata dari pantai sampai dengan daratan tingi (pegunungan). Di Bali, wisatawan yang menggunakan mobil sewa umumnya diberi kode mobil RC. Pemerintah menata sistem rent car, polisi atau warga Bali akan mengenali dengan baik, sehingga dapat menuntun atau menginfokan kepada wisatawan.
Mempertimbangkan beberapa hal seperti kelonggaran waktu, ketersediaan trasnportasi, biaya dan pertimbangan lain seperti histori atau rindu yang membuncah, akhirnya aku memutuskan untuk ke Borobudur dari 7B pilihan yang ada. Target ke Borobudur atau sekitarnya adalah berwisata dan mengejar matahari. Betapa tidak, di Borobudur khususnya di atas Stupa kita bisa mengabadikan sunrise yang tersembul atau muncul di dua pegunungan nan indah yakni Gunung Merbabu dan Gunung Merapi atau dapat menikmati keindahan mentari pagi di Bukit Punthuk Setumbu yang berada di dekat Borobudur. Pada arah barat, kita dapat mengabadikan sunset atau matahari terbenam di Parang Tritis.
Keinginan untuk mengabadikan matahari terbit dan terbenam serta rindu yang membuncah terkait Jogyakarta, aku dan keluarga (berempat) berangkat saat wiken.
Pada tanggal 16 Mei 2012 perjalanan aku mulai dari Bandung dan tiba di Jogya tanggal 17 Mei, akupun sudah merencanakan untuk mengejar sunrise pada keesokan harinya, namun menjelang maghrib saya berusaha mengejar matahari terbenam dahulu di Parang Tritis, sayang tak sempat menikmatinya karena tertutup awan, sedih juga mengalami hal ini. Aku jadi teringat dengan pepatah yang berbunyi: manusia merencanakan, tuhan yang memutuskan.
Keesokan harinya, akupun berkemas dan bersama keluarga mempersiapkan diri. Persiapan yang mantappun terlaksana, setelah shalat tahajud, aku dan keluarga berangkat ke Borobudur menjelang jam 03.57 subuh (maklum mengantispasi segala hal). Mengenali Borobudur, hampir semua orang Jogya tahu, namun untuk Bukit Punthuk Setumbu, dari beberapa orang Jogya yang aku tanya tak satupun yang tahu termasuk orang Jogya tempat saya menginap. Lokasi Bukit Punthuk Setumbu aku tahu saat akan shalat subuh di mesjid SPBU Candi Mas, seorang ibu paruh baya yang jualan jajanan (sayur-sayuran dan kue) motorlah yang menginformasikan lokasi tersebut bahwa letaknya berdekatan dengan Borobudur. Wow senang amir, akhirnya ada juga yang mengetahui lokasi Bukit Punthuk Setumbu, gumamku.
Kamipun melanjutkan perjalanan ke Borobudur setelah shalat subuh, saat menjelang tiba di pintu gerbang Borobudur, beberapa orang meneriakkan (umumnya pengendara motor) kata sunrise (matahari terbit). Ada dua pilihan lokasi mengabadikan sunrise yakni di Stupa Borobudur dengan biaya per-orang Rp.250.000, salah satu alasannya karena Borobudur belum buka. Harga resmi masuk Borobudur adalah Rp.30rb per orang ditambah parkiran mobil Rp. 5rb. Lokasi kedua yang dapat ditempuh adalah di Bukit Pathuk Setumbu, dengan biaya pemandu sebesar Rp.50.000. Saya kalkulasi, jika ke Borobudur biaya berempat Rp.1 jeti bo dan uang tersebut tentunya tidak masuk ke pemerintah, aku dan keluarga akhirnya memutuskan ke Bukit Punthuk Setumbu.
Perjalanan berkendara ke lokasi dimaksud membutuhkan waktu berkisar 15 menitan ke kaki "bukit" tempat CRV=ku parkir dan butuh lagi berkisar 15 menit lebih ke bukitnya. Wow perjalanan yang melelahkan, akupun ke bukit tanpa keluarga karena perjalanannya mendaki, terbukti akupun ngos-ngosan untuk mencapai tempat, dipihak lain pemandu biasa-biasa saja tanpa ngos-ngosan.
Beberapa pelancong domestik dan manca negara lainnya telah lebih dahulu tiba dan telah memasang tripodnya, perkiraan orang yang menanti matahari terbit setidaknya di atas 20 orang. Matahari terbit mulai menggeliat, nongol dan memancarkan cahaya kuningnya sejak jam 6 kurang 7 menit, berangsur-angsur semakin meninggi dan menerangi Borobudur yang berada di dekat gunung merapi.
Aku mengabadikan sunrise dan lautan embun, nampaknya titik puncak kepuasan mengejar matahari, tak sia-sia perjuangan dari Bandung dan ngos-ngosan saat mendaki.
Setelah puas memotret puluhan kali dan terkadang diajarin ahli potret (Pak Parno) yang juga hadir saat itu, termasuk beliau menyetel Canon EOS 550D milikku, akupun menuliskan buku isian tamu dan menyertakan biaya Rp. 15.000 sebagai retribusi.
Meski telah puas mengabadikan sunrise, namun masih ada yang mengganjal, yakni belum tercapai keinginan menikmati matahari terbenam atau sunset, meskipun dua hari berturut-turut aku mengejar matahari terbenam, semoga pada suatu kesempatan lain saya bisa menikmati matahari terbenam di Parang Tritis.
Meski telah puas mengabadikan sunrise, namun masih ada yang mengganjal, yakni belum tercapai keinginan menikmati matahari terbenam atau sunset, meskipun dua hari berturut-turut aku mengejar matahari terbenam, semoga pada suatu kesempatan lain saya bisa menikmati matahari terbenam di Parang Tritis.
Itulah salah satu keindahan kota Jogya, pembaca dapat mengejar matahari [terbit] atau sunrise di Borobudur atau Bukit Punthuk Setumbu di sisi Timur dan matahari [terbenam] atau sunset di sisi barat. Tempat lain yang menarik pula adalah Candi Mendut, Keraton, Malioboro, keramahan orang Jogya yang juga geulis, hanya satu yang agak mengganggu tentang Jogya adalah banyak pengemudi motornya kurang ramah.
Salam Akhir, semoga pembaca terinspirasi untuk mengunjungi kota Jogya. AA.AbdulAzis@gmail.com - http://twitter.com/abdulaziso
Salam Akhir, semoga pembaca terinspirasi untuk mengunjungi kota Jogya. AA.AbdulAzis@gmail.com - http://twitter.com/abdulaziso








